Beberapa hari ini saya baru aja mendapatkan fakta bahwa teman-teman saya ternyata sudah banyak yang menikah, dan beberapa lagi akan menikah. Dan hari ini saya baru ngobrol dengan istri-istri baru. Mendengar cerita-cerita mereka yang suaminya rajinlah, mandiri, tapi kalo uda lama-lama jadi rempong bin males, belum lagi urusan ekonomi keluarga, yang begini yang begitu. bla....bla...bla....
Mendengar cerita mereka, malah jadi makin membuat saya untuk tidak mengubah rencana hidup saya. Saya beberapa kali ditanya oleh teman saya yg sudah menikah maupun ortu murid tentang rencana menikah. Dan jawaban saya tetap sama.
"masi lama bu, mungkin 2-3 tahun lagi" "eh.. ga boleh lama-lama, ga boleh gitu..!" begitu mereka jawab. dan saya cuma menjawab dengan cengiran. Iya saya memang belum punya niat untuk menikah. Menikah itu ada di nomor kesekian dari daftar hidup saya. Beruntung ortu saya juga ga menuntut dan memang saya berasal dari keluarga yang tidak menganut nikah muda. Bagi keluarga saya menikah itu paling muda ya umur 24 keatas. Karena bagi mereka menikah itu tidaklah mudah. Tidak cuma modal C.I.N.T.A tapi juga materi dan juga rasa tanggung jawab.
Saya bilang ke teman saya, kalau saya masih mau cari duit dulu, baru setelah itu ngejar mimpi saya. Mereka cuma bilang "wih....!". Its OK! Tiap orang kan beda-beda pandangnnya. Karena saya ga mau saat saya nikah dan hidup bahagia punya anak dan hidup sejahtera justru malah saya jadi melupakan dan mengubur mimpi-mimpi saya. BIG NO!
Karna itu saya harus nyari suami yang ga hanya seiman dan satu tujuan tapi juga satu mimpi. Jadi nanti saya bisa membangun mimpi itu bersama-sama. Bukan hanya tentang mimpi keluarga yang bahagia, punya rumah asri dan luas, dan punya anak-anak yg manis. Tapi juga mimpi pribadi lain tentang passion dan juga dunia yang dulu di impikan. Seperti Kugy dan Keenan yang sama-sama mengarungi dan membangun mimpi bersama-sama. Bagi saya itu terasa utuh :)
Karna itu saat ini, seperti yg saya bilang saat ini fokus saya adalah cari duit sebanyak2nya. Untuk bekal mimpi saya nanti. Sebenarnya bukan cuma uang, tapi juga percaya diri dan keberanian. Saat ini saya sedang berusaha mengumpulkan 2 rasa itu. Mungkin bagi sebagian orang kalo punya mimpi ya langsung kejar. Tapi saya? jujur ada ketakutan yang cukup besar bagi saya untuk menggapai mimpi itu, Karena itu disini saya sedang belajar dan mematri diri saya untuk menjadi lebih kuat dari sekarang. Jatuh bangun saya lakukan dan lalui dalam menjalani kerjaan saya sekarang. Demi nantinya saya bisa menjadi pribadi yang tangguh. Klo pinjem kata-katanya Perahu Kertas, "jalan kita mungkin berputar, tetapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri"
Saya tidak pernah menyelesaikan apapun saat saya masuk ke dunia yang baru saya tekuni. Seperti beladiri, broadcast, maupun jurnalistik. Karna itu saat saya sudah terjun kedunia anak-anak ini, saya akan berusaha untuk terjun habis, sampai saya akhirnya mampu menghasilkan sesuatu. Setidaknya saat saya rasa saya cukup disini dan selesai, rekan dan keluarga saya tau kalau saya sudah mampu melihat, ini loh hasil saya banting tulang disini. Setidaknya saya tau kalau saya punya karya yg bisa saya banggakan kelak, walaupun sudah tidak di tempat yg sama lagi. Untuk itu saya dikenang sebagai seorang DIAN yg ga pernah lelah mengejar mimpinya.
Tampilkan postingan dengan label manusia biasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manusia biasa. Tampilkan semua postingan
Minggu, 21 Oktober 2012
Sabtu, 16 Juni 2012
Perubahan itu Ada
Dalam suatu waktu tiap orang pasti berubah. Entah itu penampilannya, (yg cupu jadi keren, yg buruk rupa jadi secantik artis holiwud, yg bening jd butek) pola pikir, bahkan karakter. Sebuah tempat juga mampu mengubah watak seseorang yg tadinya ramah menjadi keras atau sebaliknya. Iyah, perubahan itu pasti ada. Hanya tinggal menunggu waktu saat kapan perubahan itu datang.
Tapi ada kalanya saat perubahan itu datang, namun ada saja part yang sulit untuk di tolerir. maksudnya ada satu rasa yang sulit menerima kala perubahan itu tiba. Sulit untuk mencoba rasa baru, karena kita sudah terlalu nyaman dengan tempat kita. Saat ini saya sedang merasakan itu, perubahan pada watak seseorang yang jujur terlalu takut untuk mengakuinya.
Ada rasa janggal dan perih saat saya baru sadar bahwa perubahan itu sudah datang pada hidup saya. Bahwa waktu itu sudah tiba dan sudah hampir diujung pintu. Namun saya belum juga bersiap-siap untuk membuka bahkan menerimanya masuk. Iyah, saya terlalu nyaman dengan masa-masa itu. Namun kini saatnya saya bersiap (walaupun telat) untuk menerima perubahan itu, entah itu baik atau malah bertambah buruk, saya tidak tau pasti.
Tapi ada kalanya saat perubahan itu datang, namun ada saja part yang sulit untuk di tolerir. maksudnya ada satu rasa yang sulit menerima kala perubahan itu tiba. Sulit untuk mencoba rasa baru, karena kita sudah terlalu nyaman dengan tempat kita. Saat ini saya sedang merasakan itu, perubahan pada watak seseorang yang jujur terlalu takut untuk mengakuinya.
Ada rasa janggal dan perih saat saya baru sadar bahwa perubahan itu sudah datang pada hidup saya. Bahwa waktu itu sudah tiba dan sudah hampir diujung pintu. Namun saya belum juga bersiap-siap untuk membuka bahkan menerimanya masuk. Iyah, saya terlalu nyaman dengan masa-masa itu. Namun kini saatnya saya bersiap (walaupun telat) untuk menerima perubahan itu, entah itu baik atau malah bertambah buruk, saya tidak tau pasti.
Label:
Life,
manusia biasa
Rabu, 30 Maret 2011
Terimakasih Telah Hadir Dalam Hidup Kami
Terkadang apa yg terbaik tak slamanya mnyenangkan,bahkan terlampau pait. Lalu bisakah kita untuk meminta langsung pada Tuhan untuk memohon apa yg kita inginkan. Dengan tidak perlu memakai embel-embel 'berikan yg terbaik'.
Kata-kata tadi yg saya sempet pikirkan beberapa hari yg lalu. Karna merasa kata 'terbaik' tidak menjadi sebuah kepuasan jawaban atas doa yg saya panjatkan. Mungkin saat itu saya sakit hati merasa Tuhan tidak adil, karena telah memutus hidup seorang gadis yg selama beberapa tahun belakang ini tidak bisa merasakan indahnya masa-masa remaja.
Hampir seminggu yg lalu saya mendapat sms, yg bilang kalo dia tengah berada di ICU. Kritis. Saya pun berdoa kepada Tuhan untuk berikan kesembuhan agar ia bisa berkumpul lagi dengan orang-orang yg ia sayangi, tolong berikan yg terbaik. Dua hari berikutnya Ibu dan kaka saya ke Jakarta mencoba menengoknya.
Tepat sabtu malam, saya dirumah. Sendirian. Tiba-tiba kaka saya menelpon.
'halo mas?'
'dian...ragil meninggal' setelah itu terdengar suara isakan dari sebrang telepon dan tuttt..tuttt. Telepon dimatikan.
Tak henti-hentinya mengucap namaNya. Beristigfar berulang-ulang. Mencoba mencerna apa yg dikatakan kaka saya. Mencoba menyadarkan otak yg tengah mencari arti kata 'meninggal'. Tak lama bapak saya pulang. Melihat saya yg sedang menangis.
'Dian kenapa?'
'Ragil meninggal, pa!'
'innnalillahi..'
Besoknya saya langsung berangkat ke Jawa, karna rumah mbah kini menjadi tempat terakhirnya untuk selamanya. Mendengar dia akan dikubur di rumah mbah, teringat ucapan saya minggu lalu, tiba-tiba saya bilang kalo saya kangen ke Jawa dan pengen ke sana. Entah itu firasat ato apa.
Mendengar cerita dari keluarganya yg tak henti-hentinya mengenang gadis cantik ini. Sikapnya yg baik dan lembut yg begitu membedakan ia dengan saudara-saudaranya. Tapi bukan karna penyakit yg ia derita. Terdengar macam-macam cerita ketika ia pergi. Ibu yg memandikan Ragil, merasa masih tak percaya. Banyak hal menakjubkan yg lagi-lagi sulit dicerna akal sehat. Kata Ibu wajahnya tampak sangat cantik dan bersih saat dikebumikan. Saat ia selesai menyatu dengan tanah, seketika itu pula adzan dhuhur menggema. Seolah alam menyambut jasadnya ke perut bumi.
Setiap selesai shalat, suaranya, ekspresinya saat cemberut dan tertawa terus berulang-ulang terputar di benak saya. Seolah sedang menyaksikan sebuah video biografinya. Saat perjalanan menuju rumah mbah. Saya teringat Al Quran saya yg saya tinggal di rumah mbah lebaran lalu. Karna sudah tidak ada tempat daripada bercampur dengan pakaian kotor lebih baik saya tinggal. Dan akan saya ambil nanti kapan-kapan kalo ke jawa lagi. Dan saat ini saya sedang di Jawa. Tapi bukan dalam situasi dan keadaan seperti ini.
Tuhan hanya memberi hidup untuknya 17 tahun. Dan selama bertahun-tahun ia harus berada dalam situasi tubuh yg tidak menyenangkan. Hingga akhirnya ia perlu melakukan terapi dan cek dokter untuk waktu yg cukup lama. Dan ia tak pernah terlihat mengeluh dengan penyakitnya, dengan kehidupannya. Mungkin satu yg buat ia masih bisa terus survive hingga kemarin. Ia dikelilingi oleh orang-orang yg menyayanginya. Sampai akhirnya ia harus pergi, namun doa tak hentinya dipanjatkan untuk gadis yg sangat luar biasa hebat ini. Ia mampu berjuang hingga Tuhan akhirnya menghentikan perjuangannya. Sampai disini. Di 26 Maret.
'YANG TERBAIK'. Mungkin memang kita tidak pernah tau apa yg terbaik untuk kita. Karna Tuhan yg mengendalikan hidup kita. DIA yg Maha Tahu atas segala tindak-tanduk hidup kita. 'YANG TERBAIK' untuk kita memang selalu tampak pahit. Namun akan terasa manis saat waktunya nanti.
Mungkin, sudah waktunya Ragil beristirahat.
Mungkin karna sudah terlalu banyak yg kekuatan yg ia bangun untuk ia berjuang.
Mungkin inilah saat nya ia beristirahat.
Mungkin ini saatnya ia pulang.
mungkin
Terimakasih Ragil. Telah memberikan warna di hidupmu dan hidup kami.
Kata-kata tadi yg saya sempet pikirkan beberapa hari yg lalu. Karna merasa kata 'terbaik' tidak menjadi sebuah kepuasan jawaban atas doa yg saya panjatkan. Mungkin saat itu saya sakit hati merasa Tuhan tidak adil, karena telah memutus hidup seorang gadis yg selama beberapa tahun belakang ini tidak bisa merasakan indahnya masa-masa remaja.
Hampir seminggu yg lalu saya mendapat sms, yg bilang kalo dia tengah berada di ICU. Kritis. Saya pun berdoa kepada Tuhan untuk berikan kesembuhan agar ia bisa berkumpul lagi dengan orang-orang yg ia sayangi, tolong berikan yg terbaik. Dua hari berikutnya Ibu dan kaka saya ke Jakarta mencoba menengoknya.
Tepat sabtu malam, saya dirumah. Sendirian. Tiba-tiba kaka saya menelpon.
'halo mas?'
'dian...ragil meninggal' setelah itu terdengar suara isakan dari sebrang telepon dan tuttt..tuttt. Telepon dimatikan.
Tak henti-hentinya mengucap namaNya. Beristigfar berulang-ulang. Mencoba mencerna apa yg dikatakan kaka saya. Mencoba menyadarkan otak yg tengah mencari arti kata 'meninggal'. Tak lama bapak saya pulang. Melihat saya yg sedang menangis.
'Dian kenapa?'
'Ragil meninggal, pa!'
'innnalillahi..'
Besoknya saya langsung berangkat ke Jawa, karna rumah mbah kini menjadi tempat terakhirnya untuk selamanya. Mendengar dia akan dikubur di rumah mbah, teringat ucapan saya minggu lalu, tiba-tiba saya bilang kalo saya kangen ke Jawa dan pengen ke sana. Entah itu firasat ato apa.
Mendengar cerita dari keluarganya yg tak henti-hentinya mengenang gadis cantik ini. Sikapnya yg baik dan lembut yg begitu membedakan ia dengan saudara-saudaranya. Tapi bukan karna penyakit yg ia derita. Terdengar macam-macam cerita ketika ia pergi. Ibu yg memandikan Ragil, merasa masih tak percaya. Banyak hal menakjubkan yg lagi-lagi sulit dicerna akal sehat. Kata Ibu wajahnya tampak sangat cantik dan bersih saat dikebumikan. Saat ia selesai menyatu dengan tanah, seketika itu pula adzan dhuhur menggema. Seolah alam menyambut jasadnya ke perut bumi.
Setiap selesai shalat, suaranya, ekspresinya saat cemberut dan tertawa terus berulang-ulang terputar di benak saya. Seolah sedang menyaksikan sebuah video biografinya. Saat perjalanan menuju rumah mbah. Saya teringat Al Quran saya yg saya tinggal di rumah mbah lebaran lalu. Karna sudah tidak ada tempat daripada bercampur dengan pakaian kotor lebih baik saya tinggal. Dan akan saya ambil nanti kapan-kapan kalo ke jawa lagi. Dan saat ini saya sedang di Jawa. Tapi bukan dalam situasi dan keadaan seperti ini.
Tuhan hanya memberi hidup untuknya 17 tahun. Dan selama bertahun-tahun ia harus berada dalam situasi tubuh yg tidak menyenangkan. Hingga akhirnya ia perlu melakukan terapi dan cek dokter untuk waktu yg cukup lama. Dan ia tak pernah terlihat mengeluh dengan penyakitnya, dengan kehidupannya. Mungkin satu yg buat ia masih bisa terus survive hingga kemarin. Ia dikelilingi oleh orang-orang yg menyayanginya. Sampai akhirnya ia harus pergi, namun doa tak hentinya dipanjatkan untuk gadis yg sangat luar biasa hebat ini. Ia mampu berjuang hingga Tuhan akhirnya menghentikan perjuangannya. Sampai disini. Di 26 Maret.
'YANG TERBAIK'. Mungkin memang kita tidak pernah tau apa yg terbaik untuk kita. Karna Tuhan yg mengendalikan hidup kita. DIA yg Maha Tahu atas segala tindak-tanduk hidup kita. 'YANG TERBAIK' untuk kita memang selalu tampak pahit. Namun akan terasa manis saat waktunya nanti.
Mungkin, sudah waktunya Ragil beristirahat.
Mungkin karna sudah terlalu banyak yg kekuatan yg ia bangun untuk ia berjuang.
Mungkin inilah saat nya ia beristirahat.
Mungkin ini saatnya ia pulang.
mungkin
Terimakasih Ragil. Telah memberikan warna di hidupmu dan hidup kami.
Label:
jawa,
Life,
manusia biasa
Sabtu, 17 Juli 2010
Rasa yg aneh (lagi)
ada perasaan aneh yg menyelimuti,
saat melihat makhluk cipataan NYa itu
dan itu terjadi lagi...pada orang yg salah. Terbesit tanya di hati.
'kenapa selalu begini?
inginnya menyalahkan waktu. Iya, waktu yg salah
Inginya menyalahkan, rasa penasaran dalam hati yg menyeruak.
Damn! seharusnya saia tak membukanya.Hingga tak perlu merasakan perasaan yg aneh ini (lagi).
Hate this feeling sangat!
Apakah ini kutukan? atau justru berkah?
This is my gift, my curse
and it always be
saat melihat makhluk cipataan NYa itu
dan itu terjadi lagi...pada orang yg salah. Terbesit tanya di hati.
'kenapa selalu begini?
inginnya menyalahkan waktu. Iya, waktu yg salah
Inginya menyalahkan, rasa penasaran dalam hati yg menyeruak.
Damn! seharusnya saia tak membukanya.Hingga tak perlu merasakan perasaan yg aneh ini (lagi).
Hate this feeling sangat!
Apakah ini kutukan? atau justru berkah?
This is my gift, my curse
and it always be
Label:
Life,
manusia biasa,
rasa
Kamis, 20 Mei 2010
this is my life..
Senang rasanya jika kita bisa melakukan segala hal yg kita suka tanpa harus adanya larangan dari siapapun. Atau adanya desakan dari pihak lain untuk tidak melakukan hal yg mereka pikir itu "bukan gue banget". Yah, terlebih jika misalnya saja kesukaan kita terbentur oleh larangan dari orang tua atau dari orang yg kita sayangi. Sakit memang. Karena kita tidak mampu berbuat banyak. Mau nekad takut kena karma (apalagi klo sama orang tua, kualat dah), mau bablas-lanjutkan tapi tetap ada ketakutan ga bisa balik lagi ke kehidupan normal. Padahal ini hidup gue. Gue yg sepenuhnya mengontrol apa saja yg bisa dan ga gue lakuin.
Emang sih, tetep ajah sebebas-bebasnya kita ingin hidup, tetep semua itu dibatasi dengan hak orang lain. Yah, percaya atao ga, kebebasan kita tak sepenuhnya utuh. Tapi di batasi oleh hak orang lain. Sekalipun elo mo idup di hutan yg ga bakal ada orang lain yg ngekang elo, tetep aja ada hukum alam. Kalo elo rela rebutan makan ama macan sih ga papa, sonoh!
Kenapa gue nulis ini semua? karena baru aja kemaren gue terinspirasi dari seseorang yg ekspresinya dibatasi. Tiada lain tiada bukan, orang tuanya ga setuju sama pilihan yg dia ambil. Sebenernya kalo menurut gue pilihan dia itu ga masalah, still on the track. Cuma ga tau kenapa ortunya ga setuju. Dan itu dia lakukan karna emang dia suka, itu adalah hobinya dari dulu.
Gue selalu iri sama orang-orang yg selalu bisa melakukan apa yg ia suka. Bahagia banget pasti idupnya. Nah, gue skarang mo nulis obsesi-obsesi gue yg mudah-mudahan aja bisa kesampean. amin. doakan aku yah!
Emang sih, tetep ajah sebebas-bebasnya kita ingin hidup, tetep semua itu dibatasi dengan hak orang lain. Yah, percaya atao ga, kebebasan kita tak sepenuhnya utuh. Tapi di batasi oleh hak orang lain. Sekalipun elo mo idup di hutan yg ga bakal ada orang lain yg ngekang elo, tetep aja ada hukum alam. Kalo elo rela rebutan makan ama macan sih ga papa, sonoh!
Kenapa gue nulis ini semua? karena baru aja kemaren gue terinspirasi dari seseorang yg ekspresinya dibatasi. Tiada lain tiada bukan, orang tuanya ga setuju sama pilihan yg dia ambil. Sebenernya kalo menurut gue pilihan dia itu ga masalah, still on the track. Cuma ga tau kenapa ortunya ga setuju. Dan itu dia lakukan karna emang dia suka, itu adalah hobinya dari dulu.
Gue selalu iri sama orang-orang yg selalu bisa melakukan apa yg ia suka. Bahagia banget pasti idupnya. Nah, gue skarang mo nulis obsesi-obsesi gue yg mudah-mudahan aja bisa kesampean. amin. doakan aku yah!
obsesi seorang dian:
- menjelajahi pantai-pantai yg ada di Lebak. Sumpah disono pantainya indah dan masih aseli bgt.
- mendalami dunia permusikan dengan belajar instrumen piano. (because I love piano a lot! ga tau kapan bisa punya kesempatan belajar piano)
- magang di biro iklan
- pengen beli sepedah,trus keliling kota
- ikutan beladiri,biar jadi strong women. Bukan jadi cewe yg menya-menye. Jatoh dikit, trus nangis. No way!
- ikutan beladiri,biar jadi strong women. Bukan jadi cewe yg menya-menye. Jatoh dikit, trus nangis. No way!
- and last but not least...bergabung di komunitas gerakan sosial. Macam anak penderita kanker ato anak-anak jalanan ato autis. Sekedar berbagi kebahagaian dgn orang-orang yg spesial ini.
Mungkin itu cuma beberapa dari mimpi-mimpi gue, dari dulu masih setia kongkow di pkiran gue. Entah kapan mimpi itu bakal bisa terrealisasi. Atao jangan-jangan cuma bisa menjadi seonggok tumpukan mimpi usang yg lama-lama terhapus oleh usia yg semakin bertambah. Who knows?
Label:
Life,
manusia biasa,
obsesi
Minggu, 07 Maret 2010
Kuliah lagi, Tugas lagi-lagi
Wuah...!
udah semester 6 nih ceritanya.. ga nyangka udah hampir 3taon gue kuliah. Dan kemaren minggu pertama masuk kuliah. Tao gak seh Loooo...? Baru aja masuk sekali tapinya tapi. JEBRET! tugas langsung dateng bertubi-tubi.
Wadoh...alamat ga bakal makmur nih semester inih. Gimana nggak? duit pasti abis buat bikin tugas. Dari mulai bikin majalah, brosur, newslettter,... dan laen sebagainya yang mau tak mau kudu rajin-rajin membuka-tutup sotoshop,corel dkk. Sebenernya bukan ngga bisa, sih desain-desain begitu. Cuma ngga biasa aja, mata gue tuh agak sensi kalo lama-lama di komputer. Dan sayangnya ide gue tuh pelit banget. Pelit, disaat gue butuh, sebutuh-butuhnya tapi ga dateng-dateng. Pelit, disaat ide lagi banyak-banyaknya perlu tapi yang keluar cuma irit banget.
Trus ada juga kemaren pas jumat kemaren. Dapet tugas baru lagi. Katanya suruh jualan. Jualan? Lho?
Ho'oh..
jadi ceritanya di semester inih ada tugas yang kalo menurut gue nggak biasa. Kata dosennya sih kita di makulnya dia bakal jadi calon marketer. Lah! ngga salah nih? jadi Marketer? Apa ngga salah jurusan tuh, bu? Karna setau saiah kalo marketer ituh orang ekonomi, sedangkan gue? Komunikasi. Bukannya gue nti jadinya seorang communicate yah?
Entahlah apa yang ada dibalik rencananya. Pake acara jualan segala. Trus dievaluasi. Dan yg bikin ga enak dicoba untuk dana seminim mungkin tapi ngga ngerugiin. Apa pula ini??
ditambah dengan yang tiada lain tiada bukan. Presentasi, presentasi, presentasi, presentasi dan presentasi lagi.OKeh.. mungkin ini emang konsekuensinya jadi mahasiwi. Tapi kok ya udah 3 taon kuliah masih wae ngeluh-ngeluh. Memang saya benar-benar manusia yang seutuhnya. Seutuhnya berisi keluhan.
Label:
kuliah ato kuli_ah,
manusia biasa
Langganan:
Postingan (Atom)